Mengenal Lagu “Multo”: Lirik, Arti, dan Makna di Balik Setiap Baris

Mengenal Lagu “Multo”: Lirik, Arti, dan Makna di Balik Setiap Baris – Dalam lanskap musik yang terus berkembang, terdapat lagu-lagu yang tak hanya enak didengar, tetapi juga menyimpan makna mendalam yang mampu menyentuh perasaan banyak orang. Salah satu dari lagu tersebut adalah “Multo” dari band asal Filipina Cup of Joe. Lagu ini dirilis sebagai bagian dari album Silakbo pada 14 September 2024. Dengan mengusung tema tentang kenangan, kehilangan, dan perasaan yang “menghantui”, lagu ini berhasil mencuri perhatian pendengar terutama di media sosial.
Melalui artikel ini, kita akan membedah lirik lagu “Multo”, menelusuri arti slot server thailand di balik beberapa baris penting, serta menggali pesan emosional yang ingin disampaikan oleh Cup of Joe. Karena hak cipta melarang kita untuk menampilkan lirik lengkap tanpa izin, di sini akan disajikan potongan lirik yang relevan untuk analisis, lalu dilanjutkan dengan interpretasi dan penerapannya dalam kehidupan.
Sekilas tentang Lagu “Multo”
Lagu ini menggunakan metafora multo (yang dalam bahasa Filipina/Tagalog berarti “hantu” atau “bayangan”) untuk menggambarkan bagaimana kenangan masa lalu, rasa kehilangan, atau cinta yang tak tersampaikan bisa terus menghantui seseorang meskipun secara fisik mungkin tidak hadir lagi.
Secara musikal, lagu ini mengusung genre pop-rock dengan sentuhan melankolis dan nuansa ambient yang kuat. Menurut sumber, “Multo” ditulis oleh Raphaell Ridao bersama kakaknya Redentor Immanuel Ridao saat masa pandemi. Dengan demikian, karya ini juga bisa dianggap sebagai refleksi emosional dari periode keterbatasan, introspeksi, dan kerinduan yang universal.
Analisis Lirik & Arti
Berikut ini beberapa bagian penting dari lirik lagu, diikuti slot bonus new member dengan interpretasi arti dan maknanya.
Bait Pembuka
“Humingang malalim, pumikit na muna / At baka sakaling namamalikmata lang”
Baris ini bisa diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia sebagai:
“Tarik napas dalam-dalam, pejamkan mata sebentar / Dan mungkin itu hanya sekadar tatapan mata kembali.”
(Sonora)
Makna: Sang penyanyi seakan mengajak dirinya sendiri atau pendengar untuk berhenti sejenak, menutup mata, mencoba mengingat atau menghadapi kenangan yang muncul kembali. Kata malalim (dalam) menunjukkan kedalaman emosi yang sedang dirasakan. Ada kesan bahwa “hantu” di sini bukanlah sosok fisik, tetapi bayangan atau kenangan yang muncul dari dalam diri.
Pre-Chorus
“Binaon naman na ang lahat / Tinakpan naman na ’king sugat / Ngunit bakit ba andito pa rin? Hirap na ’kong intindihin”
Terjemahan kasar:
“Segala sesuatu sudah kubuang dalam-dalam / Lukaku sudah kututupi / Tapi mengapa masih di sini? Aku sulit untuk mengerti.”
Makna: Di bagian ini tergambar usaha untuk melupakan atau menutup rasa sakit (“sugat”) yang telah ditimbun dan ditutup rapat. Namun, kenyataannya kenangan/emosi itu belum pergi—masih hadir dan sulit untuk dipahami. Ini menggambarkan konflik batin: antara keinginan untuk bergerak maju dan kenyataan bahwa hal lama masih terus datang kembali.
Chorus
“Hindi na makalaya / Dinadalaw mo ’ko bawat gabi / Wala mang nakikita / Haplos mo’y ramdam pa rin sa dilim”
Terjemahan kasar:
“Tidak lagi bisa bebas / Kau mengunjungiku setiap malam / Meski tak terlihat / Sentuhanmu masih terasa dalam kegelapan.”
Makna: Inilah inti metafora “multo”: meski objek kenangan atau rasa itu mungkin tak tampak secara fisik, dampaknya tetap ‘mengunjungi’ penyanyi. “Setiap malam” mengindikasikan periode ketika perasaan-perasaan itu paling terasa—kegelapan malam, heningnya pikiran, kenangan yang datang kembali. Sentuhan yang dirasakan “meski tak terlihat” menunjukkan bahwa pengaruh emosional lebih kuat daripada kehadiran fisik.
Pasca-Chorus / Twist
“Hindi mo ba ako lilisanin? Hindi pa ba sapat pagpapahirap sa ’kin? … Hindi na ba mamamayapa?”
Terjemahan kasar:
“Apakah kau tidak akan meninggalkanku? Apakah belum cukup menyiksaku? … Apakah tidak akan ada ketenangan?”
Makna: Di sini nampak rasa frustasi dan keletihan. Penyanyi seakan berbicara kepada kenangan atau perasaan yang menghantui—mengapa masih begini? Kenapa belum bisa berhenti menyiksa? Mengapa belum ada ketenangan? Ini memperkuat bahwa “hantu” dalam lagu bukanlah makhluk luar, melainkan bagian dari diri sendiri yang belum selesai diproses.
Keseluruhan Tema & Emosi
Lagu ini menyampaikan beberapa poin tematik penting:
- Kenangan yang tidak bisa dilupakan: Kenangan atau pengalaman masa lalu yang tidak hidup secara fisik tetapi terus berpengaruh—“menghantui”.
- Konflik internal: Ada upaya sadar untuk melupakan (“binaon”, “tinakpan”), namun kenangan itu terus hadir.
- Ketidakbebasan emosional: Penyanyi merasa “tidak bisa bebas”, karena bayangan itu masih “mengunjungi”.
- Mencari ketenangan: Ada harapan untuk menyerah atau membiarkan dirinya berhenti tersiksa, namun belum juga tercapai.
- Metafora hantu sebagai simbol: Pemilihan kata “multo/hantu” sangat tepat sebagai simbol karena sesuatu yang tak terlihat, tak bisa disentuh secara fisik, namun tetap dirasakan kehadirannya secara emosional.
Kenapa Lagu Ini Mengena Banyak Orang?
Ada beberapa alasan mengapa “Multo” berhasil menggaet pendengar dan menjadi viral:
- Emosi yang universal: Siapa pun bisa mengalami kenangan yang sulit dilupakan, cinta yang tidak tersampaikan, atau rasa kehilangan yang terus muncul. Lagu ini memberikan “suara” bagi pengalaman tersebut.
- Metafora yang kuat: Kata “multo” sebagai simbol hantu sangat puitis dan langsung memberikan nuansa misteri, kehadiran bayangan, sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dihindari.
- Musik yang mendukung: Dengan nuansa melankolis dan ambient, musiknya mendukung lirik untuk menyampaikan rasa “terperangkap” atau “diserang kenangan”.
- Momen rilis yang tepat: Dirilis pada masa di mana banyak orang menghadapi isolasi, refleksi diri, dan kerinduan—tema yang sangat relevan.
Pesan untuk Pendengar
Dari lagu ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran atau refleksi:
- Pentingnya pengakuan terhadap perasaan: Menutup luka atau menyembunyikan kenangan tanpa menghadapinya bisa membuatnya terus ‘mengganggu’. Lagu ini mengajak kita untuk menyadari bahwa “kenangan” yang belum diselesaikan akan terus datang.
- Hantu terbesar adalah diri sendiri: Kadang yang menghantui bukanlah orang lain, tetapi bagian dari diri kita rasa bersalah, penyesalan, cinta yang tak terjawab. Lagu ini menggambarkan hal itu dengan kuat.
- Proses melepaskan memakan waktu: Tidak selalu mudah atau instan untuk “move on”. Lagu ini menggambarkan bahwa walaupun upaya sudah dilakukan, kehadiran kenangan bisa saja tetap ada.
- Harapan untuk ketenangan: Meskipun pesan lagu cenderung melankolis, di baliknya ada keinginan untuk menemukan ketenangan (“mamapayapa”). Ini adalah bagian dari proses penyembuhan.
- Menyalurkan melalui seni: Penulis lagu sendiri menulis “Multo” sebagai bentuk pencurahan emosi saat pandemi—sebagai medium untuk menyembuhkan dan berbagi. Ini bisa menginspirasi kita untuk menyalurkan perasaan melalui tulisan, musik, atau bentuk kreatif lain.
Kesimpulan
“Multo” dari Cup of Joe adalah lagu yang bukan hanya dapat dinikmati secara musikal, tetapi juga menyentuh lapisan emosional yang dalam. Dengan menggunakan metafora hantu untuk menggambarkan kenangan dan perasaan yang belum pergi, lagu ini berhasil menciptakan ruang bagi pendengar untuk mengenali dan meresapi pengalaman mereka sendiri.
Bagi siapa pun yang pernah merasa “dihantui” oleh masa lalu entah itu oleh cinta, kehilangan, atau penyesalan lagu ini bisa menjadi teman untuk berdiam sejenak, mengenali rasa tersebut, dan mulai menatap ke depan dengan kesadaran bahwa proses melepaskan adalah bagian dari perjalanan hidup.
